Dapat kurasakan kehangatan dada perawannya. Otakku sudah tak mampu lagi membaca. Bokepi Aku tak percaya. Nafsunya kurasa. Aku memanggilnya Kak Tina. Otakku terbakar! Aku terbangun, tak tahunya tanganku ada di atas dada Kak Tina, sedang tangannya menimpa tanganku itu. Aku terus membacanya, jakunku yang mulai tumbuh bergerak-gerak menelan ludah. Mengeluarkan sapi dan menambatkannya di kebun belakang rumah, lalu kemudian mengisi bak mandi. Sedang Kak Tina ke dapur. Rasa penasaranku makin bertambah.Suatu siang sepulang sekolah, rumah tampak sepi. Tanpa apa-apa. “Iya. Aku semakin takjub. “Mimpi..” Aku ingat mimpiku, tapi lalu ingat bahwa aku mimpi dengannya, “Gak mimpi apa-apa”.




















