Ratri!” Sekar memanggilnya. Lalu berbagai cabang bayangan lain ikut bermain. Bokep Bayangan itu berubah menjadi semacam kursi yang menopang Ratri dalam keadaan mengangkang sambil mencoblos dua lubang Ratri, yang depan dan yang belakang. “Dedemit! Jantungnya berdebar selagi dia menyadari seluruh tubuh Bayang Ireng mendekat ke seluruh tubuhnya. “Lihat penthilmu ngaceng, den ayu,” goda Bayang Ireng. Si pendekar perempuan lebih banyak menyerang, seolah hendak menghabisi lawan dengan sabetan dan tusukan pedang. Dan Sekar melihat Ratri berdiri di sebelah Bayang Ireng. “Den ayu, sebut aku Bayang Ireng. Tariannya lambat, anggun, dan mengusik birahi. Puncak kenikmatan melanda sekujur tubuhnya, sampai dia benar-benar lupa diri. Lepaskan segera temanku Ratri!” tantang Sekar. Ratri berjalan dengan acuh mendekati Sekar. Jadi, aku harap kamu mau bersabar.”
Si pendekar merangkul Sekar, menyibak




















