Tetapi nyatanya ia tidak sungguh-sungguh menghindar. Bokepi Eksanti kegelian merasakan daun-daun yang basah dan dingin melekat di tubuhnya yang panas terbakar birahi. Aku juga diminta untuk menemani rasa sepinya dengan menginap di sana. Perlahan sekali, mili demi mili batang-otot yang panas-berdenyut itu melesak ke dalam. Aku menggunakan jari-jariku untuk menguak persembunyian “Si Kecil Merah” itu, menarik ke atas kulit tebal yang menyembunyikannya, sehingga tonjolan kecil yang berdenyut-denyut lemah itu kini bebas terbuka. Aku memilih sekaleng coca cola kesukaanku. Tadinya, Eksanti mengira itu salah satu jariku, dan ia mengerang merasakan kenikmatan diterobos daging licin. “Mas, bersihkan saus tomat itu dengan mulutmu, please..,” desah Eksanti nyaris tak terdengar.




















