“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Bokep Badannya berbalik lalu melangkah. Ia terus mengelap pahaku. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Aku dipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya. Ada cairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Lalu pijitan turun ke bawah. Tapi ia dingin sekali. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja. Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu.




















