Kring..!“Mbak Hawin, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Hawin..,” gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Bokep Dan kubuka celana pantai. Astaga. Saya bisa masuk angin.” kata seorang wanita setengah baya di depanku pelan.Aku tersentak. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Nampak ada perubahan besar pada Hawin. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya.




















