Mata Kak Tina mendelik-delik, nafasnya terengah-engah. Bokepi Kak Tina pasti sedang merapikan dirinya. Aku pun menurut. Telah memakai kain sarung. Aku yang masih bocah terus membacanya. Yang pasti ini menandakan kamu sudah besar. Dapat kurasakan kehangatan yang dihantarkannya.Kak Tinapun kurasakan menggosokkan tubuhnya ke tubuhku, saat halamannya sudah sampai ke bagian seru. Seerr, darahku semakin berdesir. Aku tak punya keberanian untuk membongkar paksa.Suatu malam, setelah aku kelas tiga, setelah hampir dua tahun di rumah Pak Rochim, aku sedang tidur dengan Kak Tina di sebelahku. “Atau..”, Kak Tina memandangku, lalu tersenyum lebar, “Kamu mimpi basah ya, Sapto?”. “Sapto. Kak Tina tak pernah lupa mengunci lemarinya.




















