Tapi, masa kutembak di mobil? Kadang bibirnya berperan sebagai “bibir” bawahnya, menjepit sambil naik-turun. Bokepi “Bu Maya cuma mau nebeng sampai halte”, kata Sari seolah mengetahui kekhawatiranku. Sari menarik sendiri sepasang ‘cup’-nya ke atas sehingga sepasang bukit putih itu samar-samar tampak. “Di sini aman, deh Sar..”. “Kamu sendiri deh”. “Terusin.., Sar..”, perintahku.Sari bangkit lagi. Aku kembali menuju Bandung. Kira-kira 100 m sebelum hotel GE, kembali aku membujuk Sari untuk mampir. Ia meremas. Sari mempercepat lagi, sampai bunyi. Sekarang udah kemaleman. Sari diam saja. CD-nya sempat terlihat ketika ia jongkok mengambil dagangan yang terletak di bagian bawah rak kaca etalase. Walaupun jam kerja resmiku sampai pukul 17, tapi aku jarang bisa pulang tepat waktu.




















