Tadi bagian di bawah perutku mendadak bangun, seolah menagih sesuatu. Mau dicobain ?Reni menatapku, lalu mengangguk perlahan.Dengan tangan yang agak gemetaran, kubuka kancing-kancing daster yang berderet di depan itu. Bokepi Lagian Mama kan gak ada. Aku tak mau munafik. Jarak yang lebih dekat kalau dibandingkan dengan ke sekolah kami.Meskipun hari itu hari Minggu, pantai yang kami tuju sepi-sepi saja. Karena itu aku tidak boleh memasukkan jariku ke lubang kemaluannya. Tapi aku harus kuat mengontrol diri. Ini adalah catatan pribadi seorang pria bernama Bena (disamarkan), yang diemailkan padaku. Karena itu sejak kecil aku diambil dan dianggap anak oleh adik ibuku, yang biasa kupanggil Bi Yayuk.Berbeda dengan orang tuaku, Bi Yayuk hidup berkecukupan di rumah megahnya yang hanya 5 km jaraknya dari pantai selatan Jawa.




















