Nenek benar-benar terlelap. Tentu saja maksud penjemputanku adalah untuk diajak serta oleh Nenek pergi menemaninya ke Semarang. Bokepi Reflek, Mbak Sekar mencoba menutupi mulutku dengan telapak tangannya, begitu melihat gejala aku nyaris terpingkal karena kegelian. Yang jelas aku makin tak perduli. Beha Mbak Sekar baru tergantung separuh di satu pundaknya, sementara tali satunya menjuntai di dada kirinya. “Coba dari tadi cara mengusapnya begini, Mbak nggak akan merasa sakit,” bisiknya lagi nyaris tak bisa kudengar, karena suara hujan yang di tingkahi gelegar petir, terkadang membuat pembicaraan kami sering terinterupsi. Makanya aku langsung mengambil inisiatif mendekatkan lampu teplok di dinding ke arah meja dekat ranjang Mbak Sekar. Wajahnya tampak semakin cantik, dengan hidung mancung dan bibir kemerahan seperti habis makan sambal. Meski sesudahnya terasa agak




















