Hingga suatu saat aku menggigit bibirku keras-keras saat selangkanganku terasa perih sekali. Sedangkan sisi dalam adalah kubu pietisme “karatan” yang tak mampu bersikap realistik. Bokepi Tubuhku semakin menggerinjal saat lidah dan mulut Pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudaraku yang baru sebesar kacang kedelai. Tanganku secara tak sadar bergerak mengurut dan meremas “pistol gombyok” Pakdhe. Selama tiga tahun aku menjadi budak napsu pistol gombyok Pakdhe hingga aku lulus SMU.Tiga tahun aku harus menjalani kehidupan sebagai sasaran tembak “pistol gombyok” Pakdhe. Gerakan ayunan pantat Pakdhe semakin tak terkendali. Aku merasa tubuhku seolah-olah terhempas di awan.




















