Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Junior. Bokepi Aku tidak berpakaian kini. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Duduk di tepi dipan. Aku menurut saja. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. “Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku. Ke bawah: Tidak. Bodoh, bodoh, bodoh. Ia kerja di sana? Ia tersenyum. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya.




















