Yang menonjol adalah kiriman bunga. Bokepi Kubiarkan kehausan Norma melahap aku dengan buas dan liarnya. “Biarlah. Yang tanpa sungkan dan malu memang berharap aku memberikannya perhatian khusus. Kamu sangat jantaann.. Marah ya?” aduh senyumnya jadi manis banget di mataku. Terkadang menyeruak menusuk gerbang vaginanya. Rejeki nomplok, nih, pikirku. Akhirnya aku tak mampu menahannya. Kembali kami saling berpagut. Kulihat di pojok dekat karangan bunga yang menggunung nampak kursi dan meja kosong dengan lampunya yang tak terlampau mencolok. “Apa salahnya ‘makan lezat’? Dia cium dan sedoti dadaku. Ah.. Eehh.. ku sejak tadi sudah menampilkan ketegangannya. Pada bulan-bulan musim pesta pernikahan macam ini hampir setiap malam aku bersama istriku selalu menyempatkan untuk hadir.



















