Hmm, tapi kok masih single ya? Kugunakan jari-jarinya sebagai pengedap suara yang kugigit-gigit sebagai pengganti jeritan yang keluar. Bokepi Tidak keras, tapi cukup membuat dia kaget. Tapi ternyata aku harus menunggu lama sekali di lobby. “Ummm…” dia menatapku dengan tampang bersalah. Kelvin masuk, menutup pintu dan mengunci. Sampai akhirnya kita mau berpisah, dia minta nomor teleponku yang personal. Tapi, buat apa aku bagai model pamer baju dan tubuh di depan dia, aku kan bukan mau pergi ke pesta bersama dia. Aku tidak begitu yakin jika aku harus menurutinya atau menolaknya mentah-mentah. Aku tidak tahu bagaimana tampangnya, tapi pada saat itu aku merasa aku lebih baik darinya.




















