“Tentu dong. Bukankah ____ (nama partai) baru besok kampanyenya?”. Bokepi Aku tersenyum, dan ia pun tersenyum. Setelah itu aku mulai tertarik mencuri-curi pandang. Semua aku lakukan dengan sedikit hati-hati, karena aku sadar betapa besar batang kemaluanku untuk Mikha, aku tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Kami pun setelah itu menuju kostku, kembali memadu cinta. Takut ia berubah pikiran, tanpa menunggu lebih lama lagi langsung aku buka celana dalamnya, dan mengarahkan mulutku ke kemaluan Mikha yang bulunya lebat, kelentitnya yang memerah dan baunya yang khas. Kami berciuman kembali. Tubuh kami berkeringat dengan sedemikian rupa dalam ruangan mobil yang mulai panas, namun kami tidak peduli, kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara pada saat itu.




















