pentil toket kananku dilahap ke dalam mulutnya. Geliatan tubuhku ke kanan-kiri semakin sering frekuensinya. Bokepi “Enak sekali, Sin”, erangnya tak tertahankan. Sampai di langkah terdalam, aku membeliak sambil mengeluarkan seruan tertahan, “Ak!” Sementara daging pangkal pahanya bagaikan menampar daging pangkal pahaku sampai berbunyi: plak! Perlahan-lahan baik tubuhku maupun tubuhnya tidak mengejang lagi. Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam nonokku hanya kepalanya saja. Kadang ciumannya berpindah ke punggung leherku yang jenjang. Kepala kontolnya disemprot cairan nonokku, bersamaan dengan pekikanku, “…nyampee…!” Tubuhku mengejang dengan mata membeliak-beliak. Di kala mundur, kepala kontolnya tersembunyi di jepitan toketku.




















