Beberapa waktu kemudian, kurebahkan kepalaku di bahunya yang bidang. Bokepi Letak rumahku di desa ini jauh dari pemukiman penduduk lainnya. Aku pun pergi ke situ. Udah malam kok belum juga pulang?” kata Pak Oding. Aku turun dari ranjangku dan duduk di lantai dekat Oding. Aku maklum, sebab sebagai laki-laki normal, Pak Oding tentu juga memiliki nafsu dan keinginan, namun aku tidak mungkin berselingkuh dengan pembantuku. Aku menjadi pusing dan mencoba keluar kamar untuk minum, dengan harapan akan dapat menurunkan gairahku. “Besok, Pak,” kataku, “Ada urusan penting di perkebunan.”
“Oooo…” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Para perampok itu berhasil dikalahkannya. Tubuhku dan tubuh pak Oding sama-sama basah oleh keringat dan saling bercampur.Aku tidak berpikir tentang kekayaan dan wajah laki-laki yang menggauliku malam itu.




















