Dodi mulai lagi menciumiku. Nampaknya aku sudah tak perduli lagi. Bokepi Aku ditindihnya dari atas. “Sakit, sayang…!” aku merintih.Dodi mendiamkannya sejenak, kemudian menekan kembali. ***Kutuang air mineral ke dalam gelas. Wajahnya murung.“Anakku telah terbuang, Ma.”“Tak ada jalan lain, sayang,” bisikku menenangkan gemuruh dadanya.Aku kembali datang ke rumah pembuat ramuan itu. Kami maju bersama. Kebetulan sekali putri tunggalnya itu begitu dekat denganku. Sudah lima tahun aku tak merasakan sentuhan laki-laki dalam usiaku 42 tahun ini.Aku sudah siap dengan segalanya. Semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan,” kataku menenangkan jiwanya. Aku sudah tak mampu menahan nafsuku. Aku menelponnya. Dia pakaikan kimonoku, lalu dia melilitkan handuk pada pinggangnya dan kami menyeruput segelas kopi bergantian.“Kenapa ini bisa terjadi, Do?” tanyaku seperti menyesal.“Karena aku mencintai mama.




















