Sementara itu tangan Pak Kusrin terus bergerilya di setiap bagian tubuhku. Bokepi “Sudah lama kan kita gak ngewek.” “Terserah Bapak saja … Saya kan gak bisa nolak,” jawabku pasrah. Kedua kakiku diangkatnya, lalu disangga dengan bahunya. Ayo … dong ….” Kataku memberi semnagat. Badanku agak bergetar begitu aku merasakan gesekan kotol Pak Kusrin pada dinding-dinding dalam memekku. Namun rasa pedih di leher dan rasa kaget karena digigit secara tiba-tiba membuat aku tidak terlalu merasakan pedih yang timbul karena sobeknya selaput daraku. Aku membantu membimbing ujung kotol Pak Kusrin agar tepat sasaran. Aku pun bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk memberihkan badanku dari keringatku dan keringat Pak Kusrin. Aku terkesiap. Awalnya perlahan-lahan dan kemudian semakin cepat. Tubuh kami sudah bermandi keringat.




















