Betul-betul spontan dan tanpa tedeng aling-aling. Aku mengatakan, “Nggak masalah, Santi “, lalu ikut menyusulnya ke pantry yang terletak di bagian belakang kamarnya.Aku berdiri di pintu pantry dengan sekaleng coca cola dingin di tanganku, melihat Santi sibuk mencuci sayuran segar untuk pelengkap nasi gorengku nanti, di sebuah pinggan keramik bermotif ikan-ikan kecil warna-warni. Bokep Santi bangkit lagi, memandangiku dengan lahap memakan sosis yang agak basah berlumuran cairan cintanya. Lalu aku mendengar Santi berkata, “Kita main-main dulu yaa.., Mas?”Belum lagi aku menjawab dan mengerti apa maksud ucapannya, Santi telah menuangkan saos tomat ke kewanitaannya. Tetapi dengan takjub ia kemudian sadar bahwa “jari” itu perlahan-lahan aku makan, aku tarik keluar sedikit-demi-sedikit.




















